Suka tidak suka, ternyata banyak iklan yang sukses diingat pemirsa,
pendengar, atau pembaca, karena menggunakan kata-kata yang diciptakan
menjadi keyword oleh para pelawak. Tukul Riyanto alias Tukul Arwana adalah fenomena salah satu komedian yang jargonnya dipakai sebagai kunci kata (kalau pakai kata kunci takut larinya malah ke password, bukannya keyword) terutama dalam iklan televisi.
Ngomongin soal keyword, tak banyak yang bisa menjelaskan tentang gabungan kata ini. Kalau sabda Wikipedia, keyword advertising refers to any advertising that is linked to specific words or phrases. Kalau tulis Kamus Encarta-nya Microsoft (Encarta World English Dictionary 1999 Microsoft Corporation) malah mengartikan key-word erat hubungannya dengan komputer. Begitu juga jika kita cari artinya di kamus Oxford: a word used in a computer system to indicate the content of a document (Colour Oxford English Dictionary 2006 Oxford University Press).
Jadi bagaimana jika kunci kata kita ganti jadi kata kuncian? Kalo nggak
salah dalam salah satu permainan kartu ada istilah kuncian, yaitu kartu
andalan yang biasanya dikeluarkan belakangan untuk menutup seluruh
permainan sehingga kemenangan ada di tangan pemilik kartu kuncian
tersebut. Dalam iklan tentunya berfungsi untuk mengunci pikiran konsumen
agar ingat iklan tersebut guna kemenangan si pengiklan, yang berarti
mereknya ada di top of mind konsumen, sehingga minimal bisa menghasilkan impulse buying.
Kembali ke keyword. Seiring dengan makin berkibarnya karir
mas Tukul, hampir semua bahasa khas yang keluar dari mulut monyo… eh
maaf, maksudnya mulut maju-nya itu laku keras dipakai oleh bermacam
produk sebagai kata kuncian. Mulai dari puas, puas?! untuk produk jamu kuat pria, hingga tak sobek-sobek yang diambil oleh produk cat tembok, membuat produk-produk tersebut puas beriklan.
Sebelum Tukul katro Arwana jadi fenomena, ternyata beberapa komedian
lain telah lebih dahulu berhasil menjadikan bahasa mereka sebagai kata
kuncian, diantaranya adalah almarhum Basuki dengan …wes ewes ewes bablas angine! yang sukses mengantar sebuah produk jamu instan memasuki benak konsumen.
Jaman dulu juga ada sebuah produk sarung dengan talent seorang pelawak senior yang juga sudah awarahum, Asmuni,
untuk menjadi model iklannya, dan mengantar iklan tersebut ke benak
konsumen dengan kata: wasalam yang merupakan ciri khas almarhum Asmuni
(selain kata-kata hil-hil yang mustahal, musyawaroh, dan awarahum).
Konon kabarnya angka penjualan sarung tersebut meningkat sejak munculnya
iklan dengan kata kuncian tersebut.
Kreativitas mengutak-atik kata para pelawak itu patut diacungi
jempol, karena beberapa telah terbukti berhasil mengangkat pamor merek
yang mereka bintangi. Namun iklan dengan super talent plus jargon yang kuat bisa jadi bumerang juga. Jangan sampai konsumen akan lebih ingat Tukul berkata kolor!
untuk sebuah produk pewarna rambut, tapi kita tidak ingat apa mereknya.
Miliaran rupiah sudah habis untuk bayar seleb yang lagi naik daun, tapi
produknya tak kunjung laku, jadinya malah wasalam… [b\w]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar