Jumat terakhir di Ramadan tahun ini (18/9/09) ternyata memberikan pencerahan akan arti harafiah dari Idul Fitri. Menurut khotib shalat Jumat waktu itu, pengertian Idul Fitri secara bahasa (Arab) sebenarnya adalah kembali tidak puasa atau kembali (boleh) makan sehingga masih menurut pak khotib, penyebutan yang seharusnya adalah Idul Fitrah, karena fitrah artinya suci.

Artinya di dalam bahasa Indonesia kurang lebih akan sama. Jika kita buka KBBI, untuk kata fitri ada dua pengertian, fitri (1): 1 berhubungan dng fitrah (sifat asal); 2 berhubungan dng berbuka puasa. Sedang untuk fitri (2): kesederhanaan; hal yg tidak dibuat-buat.

Untuk kata fitrah juga ada dua, fitrah (1): sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan. Sementara untuk fitrah (2): sedekah wajib berupa bahan makanan pokok (beras, gandum, dsb) yg harus diberikan pd akhir bulan Ramadan (malam sebelum satu Syawal sampai sebelum dimulai salat Idulfitri); zakat fitrah;
berfitrah v memberikan fitrah: yg mampu wajib ~ , sedangkan yg tidak mampu berhak menerimanya;
memfitrahkan v membayarkan fitrah; berfitrah untuk: ia harus ~ dua orang kemenakan yg diasuhnya.

Pengertian fitri yang berarti suci/bersih sudah terlanjur meluas (salah kaprah?), sehingga akhirnya fitrah harus mengalah posisinya diganti oleh fitri. Apa pun nama dan pengucapannya, mau itu Idul Fitri atau Idul Fitrah, adanya ketulusan untuk saling memaafkan dan keikhlasan berbagi di awal bulan Syawal itulah hal yang paling penting dari momen istimewa ini. Jika masih bingung juga mau dengan fitrah atau fitri? Pakai saja kata Lebaran! Untuk itu saya mengucapkan dengan ikhlas:
SELAMAT LEBARAN 1 SYAWAL 1430 H, MOHON MAAF LAHIR BATIN

benewaluyo at gmail.com)