Polisi Bahasa?

21 Desember 2008

Apa yang ada di pikiran jika kita mendengar kata polisi? Kebanyakan pasti berpikir masalah tilang, pelanggaran lalu-lintas, kriminalitas, dan yang berhubungan dengan penegakkan hukum. Tapi apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata polisi bahasa?

Itulah yang ditulis oleh nonadita di kolom blogger terpilih yang ada di dagdigdug.com. Polisi bahasa di sini tentunya merujuk kepada blog yang sedang Anda buka ini, mungkin karena isinya yang selalu membahas tentang masalah pemakaian bahasa, termasuk pemakaian yang tidak tepat, sehingga dianggap sebagai tindakan pemolisian bahasa.

Polisi sendiri dalam bahasa inggris disebut police. Bahasa Indonesia mengadaptasi penyebutan bahasa penjajah Belanda: politie, sehingga di lidah inlander keluarnya jadi polisi. Menurut KBBI Daring, polisi adalah: 1 badan pemerintah yg bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum (menangkap orang yg melanggar undang-undang dsb); 2 anggota badan pemerintah (pegawai negara yg bertugas menjaga keamanan dsb).

KBBI Daring juga menuliskan beberapa contoh penempatan katanya antara lain: polisi ekonomi polisi yg mengamati pelanggaran aturan yg mengenai perekonomian; polisi lalu lintas polisi yg memelihara keamanan dan keselamatan lalu lintas; polisi militer anggota tentara yg menjalankan tugas selaku polisi untuk menjaga ketertiban atau disiplin anggota tentara yg lain.

Kalo polisi bahasa mungkin bisa berarti polisi yang mengamati pelanggaran aturan mengenai pemakaian bahasa, atau polisi yg memelihara keamanan dan keselamatan berbahasa Indonesia? Entahlah, yang jelas di dalam struktur pemerintahan tidak ada (atau belum?) yang namanya polisi untuk mengawasi pemakaian berbahasa, ngawasin rakyat aja masih bingung…
Mungkin agak berlebihan jika blog ini dibilang sebagai polisi bahasa. Karena tidak ada pengawasan dalam pemakaian bahasa Indonesia di negeri ini, apalagi tuntutan hukum bagi pelanggarnya, seperti yang dilakukan olah polisi beneran. Apa yang ada di Bahasa, please! hanyalah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keprihatinan akan pemakaian bahasa Indonesia, yang dirasa makin hari makin tidak beraturan dan makin tergerus oleh bahasa asing yang bertubi-tubi menghantam tata bahasa kita.

Tapi apapun istilahnya, Bahasa, please! sangat berterimakasih kepada nonadita dan juga paman tyo yang merekomendasikan blog ini. Karena dengan begitu, Bahasa, please! jadi bisa lebih dikenal, sehingga bisa lebih menyebarkan kesadaran berbahasa Indonesia yang baik, dan bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang, terutama yang peduli terhadap bahasa Indonesia. Terima kasih juga untuk Anda, yang sedang membaca blog ini, karena telah mencintai Bahasa Indonesia. :)

*karena dagdigdug.com sudah almarhum, maka tulisan wawancara tsb bisa dilihat di sini: http://benemenulis.blogspot.com/2012/11/polisi-bahasa.html

Akibat Pergaulan (berbahasa) Bebas


melet bendera

Sebuah taksi meluncur dari Cawang menuju arah Semanggi. Ketika baru saja melewati perempatan Pancoran, sang penumpang meminta supir taksi untuk berbalik arah,
Pak, nanti mutar di kuningan, kita ke Hero situ..

Namun apa yang terjadi? Setelah melewati lampu merah Kuningan, ternyata dia berbelok ke Jalan Rasuna Said arah Menteng! Tak ayal wanita penumpangnya marah-marah. Dengan santainya pengemudi taksi itu bilang,
Lho, tadi kan mbak nyuruhnya mutar Kuningan, sekarang ini kan di Kuningan
Menurut pak taksi itu, kata mutar yang asal katanya putar, rupanya sama dengan kata belok! Padahal maksud si penumpang adalah berbalik arah

Seorang pilot taksi memang tidak perlu membawa Kamus Besar Bahasa Indonesia (kecuali ada penumpangnya yang tak sengaja meninggalkannya di dalam taksi), namun paling tidak jika ia memang seorang warga negara Indonesia, haruslah bisa berbahasa Indonesia dengan benar. Dalam kasus ini, penggunaan kata mutar atau muter sebagai bahasa lisan sudah baik. Tapi ternyata mengartikannya yang tidak benar.

Contoh berikut tak kalah memprihatinkan. Seorang reporter sebuah televisi berita terkenal di Indonesia, memberikan laporan langsung dalam rangka hari besar umat Islam,
Warga yang beragama muslim, sejak pagi telah memadati masjid..

Beragama muslim? Kayaknya semua juga tahu, penyebutan agama adalah Islam, sedangkan pemeluknya disebut muslim. Jangan-jangan ia juga tidak tahu penyebutan umat kristiani untuk para pemeluk agama Kristen?

Ada yang bilang, di Indonesia tidak diajarkan dari kecil untuk memakai bahasa Indonesia dengan benar dan baik. Di sekolah hanya diajarkan teori-teori yang membosankan, tidak sampai diajarkan bagaimana menggunakan kalimat lisan dan tulisan.

Sekarang malah gawat, banyak sekolah swasta yang mengaku berbasis kurikulum internasional mengajarkan bahasa Inggris dari kecil, sekali pun sekolahnya terletak di tengah perkampungan padat di Indonesia. Bahasa Indonesia jadi seperti nomor dua!

Padahal, seseorang akan dapat menguasai bahasa asing lebih baik, jika mereka lebih dahulu menguasai dengan baik pula bahasa yang dipakai sehari-hari dalam kehidupannya. Jika tidak, maka kasus-kasus seperti yang diceritakan tadi akan makin sering terjadi.

Kita memang wajib mengetahui bahkan menguasai bahasa asing, tapi sebaiknya menguasai lebih dulu bahasa wajib kita sendiri. Jika kita membiarkan anak-anak kita bergaul bebas dengan bahasa asing sejak piyik tanpa lebih dahulu memperkuat landasan bahasa Indonesianya, jangan salahkan bunda mengandung jika besar nanti ngomongnya ngaco. :D [b\w]

Jam 1 Pagi atau Jam 1 Malam?

Jam 1 pagi atau jam 1 malam?

"Halo, selamat malam."
"Selamat pagi, sekarang sudah jam 1 lho pak, sudah pagi..."

Begitulah penggalan dialog antara seorang penyiar sebuah acara siaran langsung di sebuah televisi swasta, dengan salah seorang pemirsanya yang berhasil menelpon ke studio tv tersebut. Jam menunjukkan pukul 01.00 Waktu Indonesia Barat, dini hari!

Bagaimana seharusnya kita mengucap salam di saat itu. Selamat malam, ataukah selamat pagi? Mungkin kita lihat dulu penyebutan 12 jam sebelumnya, yaitu ketika waktu menunjukkan pukul 13.00, orang sudah pasti akan bilang selamat siang… Lawan dari siang adalah malam, jadi sebaiknya ketika sampai pada jam 01.00, salam yang diucapkan adalah selamat malam bukan?

Waktu terus bergulir, sampailah di angka 03.00, sehingga ucapan yang keluar sudah pasti selamat pagi tak mungkin masih selamat malam. Kita lihat lagi waktu yang berlawanan, pukul 15.00 orang akan menyebutnya jam 3 sore. Ini tepat, karena lawan dari sore adalah pagi.

Jika melihat teori berlawanan tadi, sudah seharusnya ucapan di saat jam 01.00 menjadi selamat malam meskipun hari itu secara resmi sudah berganti dari hari sebelumnya. Tapi bagaimana dengan jam malam yang lain, misalnya pukul 19.00. Jika kita lihat waktu yang berlawanannya adalah jam 07.00 pagi! Tidak mungkin kita bilang jam 7 siang, padahal lawannya jam 19.00 disebut jam 7 malam?

Untuk di negara tropis dengan dua musim, ini memang jadi masalah. Tapi jika di negara sub-tropik dengan empat musim, jam 19.00 belumlah gelap jika waktu musim panas. Ini berarti jam 19.00 masih bisa dibilang jam 7 sore berlawanan dengan jam 07.00 yang pagi. Bahasa Inggris pun masih menggunakan evening untuk waktu tanggung ini. Baru akan menggunakan good night kira-kira setelah lewat jam 21.00 atau jika akan pergi tidur.

Kembali ke salam di tengah malam, bagaimana jika kita bilang selamat dini hari untuk waktu yang menunjukkan jam 24.00 sampai 02.30. karena memang saat itulah awal hari dimulai, alias dini. Penyiar di atas tadi harusnya tidak boleh langsung menyalahkan penelponnya.

Halo, selamat dini hari mas
Dini sama Hari sudah pulang dari tadi pak, soalnya sekarang sudah jam 1 pagi, eh.. malam, eh.. pagi.. malam…
:D

Bahasa Campur-Aduk

26 November 2008

foreverkartuas.jpg

Perhatikan pemakaian bahasa pada iklan di atas. Salah satu contoh iklan yang susunan tata bahasa Indonesia-nya dibuat runyam tanpa beban. Sejak kapan kata forever masuk dalam kosa kata bahasa Indonesia? Kalau pun harus masuk dalam rangkaian kalimat, sudah seharusnya ditulis miring (italic). Alasannya pasti tak jauh dari stopping power lah, menarik perhatian lah, sesuai dengan gaya anak muda jaman sekarang, yang penting pesennya nyampe, belum pernah ada yang pake, dan beribu alasan kreatif lain (silakan ditambah sendiri).
.
iklan-doughnuts.jpg

Kebalikannya dengan iklan produk dari luar ini. Meskipun ketika menyebut nama mereknya terasa janggal di lidah, tapi justru beriklan dengan bahasa Indonesia yang baik. Cukup ironis jika kita bandingkan dengan iklan produk lokal sebelumnya yang keminggris. Memang sih tetap ada sedikit pelanggaran di kata doughnuts yang tidak ditulis miring, tapi sepertinya hal itu bisa termaafkan karena tidak dijadikan headline atau sub-headline (bahkan juga tagline). Minimal teman-teman warga asing atau anak-anak kita yang belajar Bahasa Indonesia di sekolah tidak dibuat bingung dengan susunan tata bahasa yang aneh.
.
iklan-metro.jpg

Mungkin lebih baik sekalian saja seperti ini, iklan merek luar yang beriklan dengan bahasa asing seluruhnya. Meskipun dimuat di media lokal, tapi paling tidak iklan ini tidak memberi contoh yang buruk dalam berbahasa Indonesia. Perkara pesannya sampai atau tidak ke pembaca yang bukan berbahasa Inggris itu masalah lain.

Kasihan anak-anak kita jika ada iklan campur-aduk seperti di contoh pertama. Mereka akan makin bingung dicekoki bahasanya sendiri yang babak belur dimasuki bahasa asing dengan semena-mena. Entah bagaimana jika mereka besar nanti dalam menyikapi bahasa nasionalnya sendiri yang seharusnya dapat menjadi salah satu kebanggaan bangsa. (b\w)

Bahasa Indonesia Bisa Jadi Bahasa Internasional

dari Republika online
By Republika Contributor

Selasa, 25 November 2008 pukul 15:14:00

MEDAN– Bahasa Indonesia yang juga merupakan sebagai jati diri bangsa Indonesia bisa menjadi bahasa internasional seperti bahasa Inggris, Spanyol, Perancis dan China, karena sudah dipelajari para murid di puluhan negara.

Kepala Balai Bahasa Medan (BBM), Prof. Amrin Saragih mengatakan, dewasa ini Bahasa Indonesia telah dipelajari di 58 negara yang membuktikan bahasa Indonesia siap menjadi bahasa internasional.

“Setidaknya 168 institusi dari 58 negara telah mengajarkan Bahasa Indonesai kepada anak didiknya. Ini mereka lakukan sebagai salah satu upaya untuk menyambut perdagangan bebas tahun 2015,” katanya di Medan, Selasa (25/11).

Selain itu, sebagai bukti bahwa Bahasa Indonesia sangat diminati bangsa asing, kini ada sekitar 700 orang asing datang langsung ke Indonesai untuk memperdalam keahliannya.

Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof. Khairil Ansari, mengatakan, Bahasa Indonesia bila dirunut sejarahnya berbeda dengan bahasa-bahasa di negara lain ketika dikukuhkan sebagai bahasa nasional.

Saat ini banyak negara di dunia tidak dapat memilih bahasa yang terdapat di dalam negaranya sendiri untuk diangkat menjadi bahasa nasional, bila dipaksakan akan menjadi arena pertumpahan darah sesama mereka sendiri.

Contoh itu dapat dilihat di India, Filipina, Somalia dan negara di Afrika lainnya yang tidak menjadikan bahasa dari negaranya menjadi bahasa nasional, yang pada akhirnya memilih beberapa bahasa yang pemakainya lebih banyak menjadi bahasa resmi di negaranya.

Bahkan ada juga yang langsung memilih bahasa Inggris, Prancis dan Spanyol menjadi bahasa nasionalnya karena kesulitan memilih bahasa yang terdapat di negerinya akibat tidak adanya kesepakatan diantara mereka sendiri.

Melihat perjalanan sejarah yang sangat unik ini, sepantasnya masyarakat Indonesia berbangga hati dan mencintai bahasa Indonesia sebagai bagian yang melekat pada dirinya. (ant/ri)

Kata Kuncian Dari Komedian

Suka tidak suka, ternyata banyak iklan yang sukses diingat pemirsa, pendengar, atau pembaca, karena menggunakan kata-kata yang diciptakan menjadi keyword oleh para pelawak. Tukul Riyanto alias Tukul Arwana adalah fenomena salah satu komedian yang jargonnya dipakai sebagai kunci kata (kalau pakai kata kunci takut larinya malah ke password, bukannya keyword) terutama dalam iklan televisi.

Ngomongin soal keyword, tak banyak yang bisa menjelaskan tentang gabungan kata ini. Kalau sabda Wikipedia, keyword advertising refers to any advertising that is linked to specific words or phrases. Kalau tulis Kamus Encarta-nya Microsoft (Encarta World English Dictionary 1999 Microsoft Corporation) malah mengartikan key-word erat hubungannya dengan komputer. Begitu juga jika kita cari artinya di kamus Oxford: a word used in a computer system to indicate the content of a document (Colour Oxford English Dictionary 2006 Oxford University Press).

Jadi bagaimana jika kunci kata kita ganti jadi kata kuncian? Kalo nggak salah dalam salah satu permainan kartu ada istilah kuncian, yaitu kartu andalan yang biasanya dikeluarkan belakangan untuk menutup seluruh permainan sehingga kemenangan ada di tangan pemilik kartu kuncian tersebut. Dalam iklan tentunya berfungsi untuk mengunci pikiran konsumen agar ingat iklan tersebut guna kemenangan si pengiklan, yang berarti mereknya ada di top of mind konsumen, sehingga minimal bisa menghasilkan impulse buying.

Kembali ke keyword. Seiring dengan makin berkibarnya karir mas Tukul, hampir semua bahasa khas yang keluar dari mulut monyo… eh maaf, maksudnya mulut maju-nya itu laku keras dipakai oleh bermacam produk sebagai kata kuncian. Mulai dari puas, puas?! untuk produk jamu kuat pria, hingga tak sobek-sobek yang diambil oleh produk cat tembok, membuat produk-produk tersebut puas beriklan.

Sebelum Tukul katro Arwana jadi fenomena, ternyata beberapa komedian lain telah lebih dahulu berhasil menjadikan bahasa mereka sebagai kata kuncian, diantaranya adalah almarhum Basuki dengan …wes ewes ewes bablas angine! yang sukses mengantar sebuah produk jamu instan memasuki benak konsumen.

Jaman dulu juga ada sebuah produk sarung dengan talent seorang pelawak senior yang juga sudah awarahum, Asmuni, untuk menjadi model iklannya, dan mengantar iklan tersebut ke benak konsumen dengan kata: wasalam yang merupakan ciri khas almarhum Asmuni (selain kata-kata hil-hil yang mustahal, musyawaroh, dan awarahum). Konon kabarnya angka penjualan sarung tersebut meningkat sejak munculnya iklan dengan kata kuncian tersebut.

Kreativitas mengutak-atik kata para pelawak itu patut diacungi jempol, karena beberapa telah terbukti berhasil mengangkat pamor merek yang mereka bintangi. Namun iklan dengan super talent plus jargon yang kuat bisa jadi bumerang juga. Jangan sampai konsumen akan lebih ingat Tukul berkata kolor! untuk sebuah produk pewarna rambut, tapi kita tidak ingat apa mereknya. Miliaran rupiah sudah habis untuk bayar seleb yang lagi naik daun, tapi produknya tak kunjung laku, jadinya malah wasalam… :) [b\w]

tukul-jamu.jpg

keminggris

kbbismilex.jpg
Membaca liputan mingguan di Kompas yang membahas tentang orang-orang Indonesia yang sukses belajar hingga bekerja di negeri orang. Mereka yang sebenarnya juga TKI (Tenaga Kerja Indonesia), namun berada di strata yang lebih beruntung alias bekerja di luar negeri tapi bukan sebagai pekerja kasar.

Salah satunya adalah kisah Arief Budiman -kakak kandung dari tokoh mahasiswa yang kisahnya sukses difilmkan: Soe Hok Gie- yang telah puluhan tahun hidup di luar Indonesia, dan kini menjadi pengajar di sebuah universitas di Australia.

Apa yang menarik dari Arief untuk dibahas di sini? Sebagai manusia yang mungkin mimpinya pun berbahasa Inggris, ia tetap lebih memilih berbahasa Indonesia jika harus bercakap-cakap dengan sesama orang Indonesia. Rasanya nikmat sekali jika saya bisa bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, ujar dosen Satya Wacana ini.

Ternyata suami psikolog Leila CH Budiman ini tidak sendiri. Sebagian besar orang Indonesia yang telah lama tinggal di luar negeri, ataupun yang terbiasa menggunakan bahasa negara setempat, tetap merindukan berbahasa Indonesia karena merasa lebih nikmat.

Sayangnya kerinduan dan kenikmatan berbahasa Indonesia ini tidak dirasakan oleh para produsen bangsa kita. Ini terlihat dari masih banyak yang menganggap pemakaian bahasa Inggris dalam iklan mereka akan dapat meningkatkan citra merek dari produk yang diiklankan. Termasuk juga yang menganggap dengan nge-english akan dapat mengubah kelas target market dari B ke A. Ini isyu lama sih, tapi masih tetap relevan untuk terus diperbincangkan.

Orang kita saat ini lebih banyak yang ngomong pake bahasa Inggris, bahkan ABG aja sekarang juga sudah pada keminggris (baca: sok-sokan berbahasa Inggris), menurut seorang praktisi iklan. Jika keadaannya seperti itu, apakah wajar iklan yang keluar jadinya akan berbahasa Inggris, sekalipun produknya bersifat sangat lokal, iklannya sangat bermuatan lokal (local content), dan ditujukan untuk 100% orang Indonesia, di wilayah Indonesia pula?

Jika melihat kerinduan orang-orang seperti Arief Budiman yang lama tinggal di negeri orang akan bahasa Indonesia, tampaknya ke-english-an iklan lokal tersebut bisa jadi salah kostum jika ditayangkan di wilayah lokal.

Kesuksesan iklan dari Jepang dan Thailand dalam memenangkan award internasional justru karena kelokalannya, sudah tentu termasuk bahasanya. Dengan kelokalan yang kental, banyak keunikan dan kelucuan yang bisa didapat. Penanda yang paling terlihat dari sebuah kelokalan apalagi jika bukan dari bahasanya.

Bahasa menunjukkan bangsa, kata pepatah. Sudah saatnya para pemilik produk jangan lagi ragu akan produk unik mereka yang sangat kedaerahan. Tak ada salahnya bikin iklan pake bahasa daerah, asalkan sesuai dengan target konsumennya. [b\w]