Tampilkan postingan dengan label penyerapan kosakata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyerapan kosakata. Tampilkan semua postingan

RESOLUSI?

Desember 2011

Tau nggak artinya ‘RESOLUSI’?

Menjelang berakhirnya tahun 2011 Masehi ini, ada satu kata yang sedang naik daun dan sering ditanyakan antar kita, yaitu kata ‘resolusi’. “Apa resolusi kamu di tahun 2012” atau “Apakah Anda sudah punya resolusi untuk menjalani tahun baru 2012 mendatang?” begitulah salah dua contoh pertanyaan tentang resolusi. Tapi sebenarnya, tau nggak sih apa itu artinya ‘resolusi’?

Sebelum kita mulai menjawab segala pertanyaan seperti di atas, atau sebelum kita mulai menulis “daftar resolusi” itu tadi, sebaiknya kita lihat dulu apa kata KBBI Daring tentang ‘resolusi’:

re·so·lu·si /résolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tt suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yg akan diajukan kpd pemerintah

Nah, sudah jelas kan, apa yang dimaksud dengan re-so-lu-si? Kata ini kemungkinan besar diadaptasi dari kata English, yaitu resolution, yang menurut Merriam-Webster Dictionary artinya adalah ‘the act or process of resolving’ yaa... terjemahan bebas Google-nya adalah ‘tindakan atau proses penyelesaian’.

Secara harfiah atau berdasarkan arti leksikal, contoh pertanyaan di atas tadi masih bisa relevan dengan arti sebenarnya. Artinya kata ‘resolusi’ bisa dianggap berupa sebuah atau beberapa tuntutan tentang suatu hal bagi diri kita di tahun 2012. Begitu pula jika mengacu pada arti English-nya, sepertinya juga masih sesuai, pertanyaan tersebut bisa mengarah kepada sebuah tindakan atau proses penyelesaian yang akan kita lakukan di tahun depan.

Namun masalahnya, saat ini kata ‘resolusi’ sudah banyak yang menganggap sebagai istilah lain dari ‘harapan’, bahkan juga ‘cita-cita’, ‘impian’, atau bagaimana melaksanakan rencana-rencana yang belum terlaksana, atau yang akan dilakukan di tahun yang akan datang. Dalam hal ini resolusi jadi sedikit mengalami perubahan makna, lebih berkembang, dan bisa-bisa malah lari jauh dari makna sesungguhnya.


Resolusi memang bukanlah kata gabungan dari ‘re’ dan ‘solusi’, yang artinya ‘solusi ulang’, tapi bisa saja di antara “daftar” resolusi kita untuk tahun yang baru salah satunya merupakan sebuah aktivitas untuk mencapai solusi yang diulang, karena mungkin di tahun 2011 hasil solusinya kurang memuaskan. Semoga segalanya di hari, bulan, dan tahun yang baru, dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selamat tahun baru 2012, dan selamat mengimplementasikan resolusi yang sudah dibuat (bagi yang membuatnya). :D

Kumpul Kebo atau Kumpul Kerbau


30 April 2011

Di harian Kompas yang terbit pada hari Jumat 29 April 2011, tepatnya di kolom ‘Bahasa’ halaman 15, ada tulisan bapak Anton M Moeliono yang sangat menarik, berikut tulisannya:

BAHASA
Kumpul Kerbau

Ada perbedaan yang jelas antara proses penyerapan kosakata asing zaman dulu dari yang sekarang. Dahulu penyerapan didasarkan pada pendengaran dan hasilnya ditulis dengan huruf yang dianggap paling dekat dengan bunyi vokal atau konsonan Indonesia. Misalnya, chaffeur (Belanda) menjadi sopir, winkel menjadi bengkel, dan luitenant menjadi letnan.

Menurut penelitian mahasiswa saya, bentuk serapan dari bahasa Belanda hingga awal Perang Dunia Kedua berjumlah kira-kira 4.000 butir. Di samping itu selama berabad-abad berlangsung penyerapan antara lain dari bahasa Sanskerta, Arab, Cina, Portugis, Tamil, dan Persia. Bahasa Melayu dan bahasa Indonesia dewasa ini paling banyak menyerap kosakata dari bahasa Inggris ragam Amerika, Britania, dan Australia.

Karena bangsa Indonesia sedang memasuki peradaban beraksara dan teknologi informasi, warga masyarakat bangsa Indonesiadi mana pun tinggalnya diharapkan memakai unsur kosakata serapan dengan bentuk tulisnya sama dan seragam, sedangkan lafalnya dapat berbeda menurut suku etnis dan bahasa daerah yang masih dipakainya.
Ambillah kata Belanda dan Inggris bus, yang di Medan lafalnya mungkin mirip dengan busuk atau busur, tetapi di Bandung lafalnya menjurus ke beus seperti kata beureum ‘merah’, dan di Yogya condong ke bis sebab orang ngebis. Akhir-akhir ini diperkenalkan bentuk busway, dan yang suku awalnya dilafalkan secara Inggris: bas. Demi keseragaman, yang menjadi ciri pembakuan, kita menetapkan ejaannya jadi bus.

Sejak 1972 dipakai pedoman berikut. Proses penyerapan bertolak dari bentuk tulisan tak lagi dari lafal ungkapan asing. Ejaan kata Inggris management diubah menjadi manajemen yang lafalnya oleh orang Yogya berbeda dari orang Padang. Namun, ejaan atau bentuk tulisannya sama. Namun, karena kita tidak merasa wajib mematuhi kaidah dan aturan, kecuali jika ada sanksi, atau denda, kata basement belum diserap menjadi basemen (ba-se-men) walaupun sudah ada aransemen, klasemen, dan konsumen. Kata basement dapat diterjemahkan jadi ruang bawah tanah dengan akronimnya rubanah.

Sikap taat asas juga perlu diterapkan pada unsur serapan yang berasal dari bahasa daerah Nusantara. Ungkapan kumpul kebo kita nasionalkan menjadi kumpul kerbau karena yang berkumpul serumah itu bukan kerbau-kerbau Jawa saja. Selanjutnya orang yang membangkang atau menentang perintah tidak mbalelo, tetapi membalela. Orang yang tidak berprasangka bahwa daya ungkap bahasa Indonesia masih rendah akan menemukan kata membalela di dalam kamus Poerwadarminta yang terbit pada tahun 1952.

Begitu pula ada kata merisak ‘menakuti atau menyakiti orang yang lebih lemah’ untuk memadankan to bully dan bullying, serta kata berlepak menghabiskan waktu dengan duduk-duduk tanpa melaksanakan sesuatu yang bermanfaat untuk mengungkapkan budaya remaja to hang out.

Kita tidak mengenal kosakata Indonesia karena, menurut laporan terakhir, 50 persen dari sekolah dasar dan 35 persen dari sekolah lanjutan pertama pemerintah tidak memiliki koleksi pustaka, dan kamus tidak disertakan berperan dalam proses belajar-mengajar bahasa.

ANTON M MOELIONO, Pereksa Bahasa, Guru Besar Emeritus UI