Tampilkan postingan dengan label bahasa jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa jawa. Tampilkan semua postingan

Bahasa Jawa dan Sunda di Ponsel

Bukan bermaksud promosi, tapi hanya ingin berbagi informasi. Sekarang ini mereka (para produsen) selalu berusaha untuk lebih akrab dengan konsumennya. Salah satu caranya adalah dengan memasukkan menu bahasa daerah di produk telepon seluler. Ternyata aplikasi teknologi dengan menu bahasa Indonesia sudah tidak istimewa lagi.

Tentang sejauh mana efektifitasnya dalam menjaring pengguna atau pembeli lebih banyak sehingga bisa meningkatkan penjualan, masih perlu waktu untuk dibuktikan, yang jelas dengan adanya menu bahasa daerah ini paling tidak kekayaan bahasa kita mulai dihargai.

ponsel sony ericsson dengan menu bahasa jawa dan sunda
ponsel Sony Ericsson dengan menu bahasa Jawa dan Sunda

(11 Maret 2009)

Geger Boyo & Punggung Buaya


*postingan 11 Juni 2006 (di benwal.multiply.com)

Setelah istilah Wedhus Gembel, gunung Merapi punya istilah unik lagi, yaitu Geger Boyo. Istilah ini adalah sebutan untuk dinding kubah lava di puncak Merapi yang terbentuk karena letusan antara tahun 1906 – 1911.
Minggu malam tanggal 4 Juni 2006 kemarin geger boyo runtuh karena terus menerus dihempas oleh aliran lava yang keluar tak hanya lewat kubah, tapi juga mencari jalan keluar melalui kaki kubah, sehingga kemungkinan besar hal itu yang semakin melemahkan kekuatan si ‘punggung buaya’ tersebut.  


Beda geger dan gégér


Geger Boyo adalah sebutan yang diberikan oleh penduduk lokal, yang dalam bahasa Indonesia berarti “punggung buaya”. Sama seperti wedhus gembel, sebutan itu kemungkinan besar dikarenakan bentuk dinding kubah yang terlihat kasar seperti punggung buaya.

Cara mengucapkan huruf ‘e’ pada kata geger sama dengan ketika kita mengucapkan kata beras, bukan ‘e’ pada kata bébas. Jika begitu pengucapannya dalam bahasa Jawa, artinya adalah punggung. Sedangkan arti boyo dalam bahasa Indonesia adalah buaya.

Cara pengucapan ini menjadi penting, karena ketika mengucapkan gégér dengan ‘e’ seperti pada kata bébas, artinya adalah kegemparan atau keramaian. Ternyata geger yang berarti gempar ini sudah menjadi kata resmi bahasa Indonesia, terbukti dengan adanya kata geger di Kamus Besar Bahasa Indonesia (terbitan Depdikbud RI thn.1988, hal. 260). Di buku itu geger [gégér] berarti: riuh ramai tidak keruan; gempar; heboh; ribut.

Pentingnya mengetahui akar budaya lokal

Di beberapa media cetak, geger boyo ini ditulis dengan berbagai macam. Salah satu media ada yang menulis Geger Buaya. Jika begitu, artinya adalah “kehebohan buaya” karena kata boyo yang sudah diindonesiakan. Karena ini adalah sebuah penyebutan yang sangat bersifat lokal, sebaiknya memang tidak perlu diganti dalam penulisannya, karena akan menjadi aneh. Coba bayangkan apa yang ada di benak kita jika membaca sebuah berita seperti ini: “Struktur Merapi berubah karena runtuhnya Punggung Buaya”?

Mungkin sudah saatnya menambah kriteria atau prasyarat seseorang jurnalis jika ingin bekerja di sebuah media berbahasa Indonesia, yaitu selain biasanya diutamakan yang mampu berbahasa Inggris, juga harus bahkan wajib menguasai dengan baik dan benar bahasa Indonesia serta bahasa daerah.

Jangan sampai justru orang asing yang lebih pintar menggunakan dengan baik dan benar bahasa persatuan kita ini. Sekarang sudah mulai banyak bule-bule yang sungguh mahir berbahasa Indonesia, bahkan juga bahasa daerah, karena memang mereka mempelajarinya. Sementara banyak orang Indonesia yang justru bangga tidak bisa berbahasa daerah, malah bangga dengan bahasa asingnya. Lama-lama akar budaya kita bisa runtuh seperti punggung.. eh, geger boyo Merapi itu, karena kebanyakan dihempas oleh unsur asing lewat bahasa. Semoga tidak terjadi. [b\w]

WEDHUS GEMBEL


Kenapa sih disebut wedhus gembel?” tanya seorang teman mengomentari berita-berita tentang Merapi yang kini sedang marak. Salah satu gunung paling berbahaya di dunia yang dari namanya saja sudah menandakan sifatnya, beberapa hari terakhir ini sedang rajin-rajinnya bikin berita dengan mengeluarkan awan panas, yang oleh masyarakat sekitar Merapi disebut wedhus gembel itu tadi.


Wedhus gembel memang berasal dari bahasa Jawa, namun juga bukan merupakan terjemahan harfiah dari kata awan panas. Disebut begitu karena jika melihat fisiknya (lihat gambar), awan panas itu bentuknya menyerupai bulu wedhus (bahasa Indonesianya: domba), yang gembel (gimbal).
Jika ada yang belum pernah melihat sosok si wedhus, silakan menunggu waktu lebaran haji, di mana banyak sekali domba-domba yang siap untuk dipotong. Perhatikan bulunya, mirip dengan awan panas yang dikeluarkan oleh gunung berapi. Karena awan panas yang dikeluarkan Merapi tidak putih seperti awan biasa, tapi terlihat agak lebih gelap, sehingga mengesankan bulu domba yang gimbal alias gembel, karena kotor tak pernah dibersihkan.

Gembel adalah bahasa Jawa yang pada akhirnya masuk menjadi bahasa Indonesia dengan konotasi yang sedikit berubah. Kata gembel lebih beruntung dibanding kata wedhus, karena dapat ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun kita diharuskan untuk melihat keterangan maknanya di kata jembel, yang berarti: melarat; miskin sekali (KBBI Depdikbud RI 1988, hal. 266 dan 357).


Seseorang yang sangat melarat biasanya rambutnya tidak terurus, sehingga jadi gimbal atau gembel. Pada akhirnya kita kerap menyebut orang yang berpenampilan seperti tidak terurus, atau gelandangan dengan kata gembel. Sementara seseorang dengan rambut seperti Bob Marley tetap disebut berambut gimbal, bukan gembel.
   
Istilah wedhus gembel lama-lama bisa merambah masuk menjadi bahasa Indonesia, karena seringnya disebut-sebut di dalam pembacaan berita maupun ditulis media masa. Wedhus gembel agaknya cukup tepat mengacu kepada keadaan seperti saat ini di Merapi, karena jika kita memakai istilah awan panas, maka akan timbul pertanyaan: kalau ada awan panas, berarti ada awan dingin yang seperti apa ya, mungkin awannya putih tidak kusam seperti wedhus gembel? Jangan-jangan nanti malah ada istilah baru untuk itu, yaitu wedhus priyayi. Hehehe.. (b\w) 

* pernah dimuat di benwal.multiply.com (alm) pada 16 Mei 2006