Tampilkan postingan dengan label headline. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label headline. Tampilkan semua postingan

Lomba Blog: salah satu penghargaan terhadap Bahasa Indonesia

4 Februari 2009

Akhir-akhir ini marak berbagai lomba blog yang diadakan berbagai pihak, mulai dari perorangan, seperti yang diadakan oleh bugiakso.com (”Aku Untuk Negeriku”), hingga korporasi besar. Terutama perusahaan yang berhubungan dengan komunikasi maya, mulai dari Speedy hingga Star-One. Senang melihat kenyataan dalam lomba-lomba tersebut sebagian besar mensyaratkan kewajiban berbahasa Indonesia (ya jelas donk ah, kan lombanya di Indonesia, kalo di India ya bahasa Urdu lah… hehe).

Namun lomba blog tak hanya didominasi oleh usaha teknologi komunikasi saja, banyak korporasi raksasa di bidang lain juga tak kalah hebohnya bikin lomba tersebut. Salah satunya adalah Djarum Black Blog Competition.

Artikel yang diajukan untuk kompetisi menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris dapat dipergunakan sebagai konten artikel tetapi hanya sebagai pelengkap artikel saja, bukan menjadi bahasa utama penulisan artikel. Demikian yang ditulis oleh panitia di web blog Djarum Black Blog Competition di dalam Syarat dan Ketentuan poin ke empat. Hal ini patut dihargai, meski masih ada sedikiiit sekali kekurangan, yaitu kelupaan mengganti atau mencari padanan kata konten (isi, kandungan) dalam kalimat tersebut.

Ah, cuma begitu doank kok ribut sih… celetuk seorang teman. Betul juga dia, yang penting kan dalam lomba tersebut mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia. Meskipun lagi-lagi di dalam latar belakang lomba ada dua poin yang juga belum dicari padanan katanya:
Untuk menemukan generasi baru yang lebih expressive, speak up their opinion, care to their surroundings, and creative. Diteruskan dengan poin kedua: Bloging sudah menjadi Lifestyle.

Di antara banyak kealpaan tersebut, yang jelas Kompetisi Blog Djarum Black (baca: Djarum Black Blog Competition) ini merupakan salah satu unsur pendukung berkembangnya Bahasa Indonesia, terutama di dalam dunia per-blog-an. Justru harapannya setelah panitia membaca tulisan ini, yang juga sekaligus diikutsertakan dalam kompetisi, ke depannya kerancuan berbahasa tersebut akan lebih diperhatikan.

Salut untuk Djarum Black! Perusahaan ini memang sangat memperhatikan potensi kaum muda Indonesia. Terbukti mereka juga sukses dalam penyelenggaraan Blackinnovationawards setiap tahunnya. Lomba blog kali ini tentunya bertujuan untuk memunculkan potensi blogger Indonesia. Siapa tahu dari para peserta ada yang bisa menghasilkan sesuatu hal baru yang dapat berguna bagi banyak orang, seperti apa yang sudah dicapai dalam Blackinnovationawards.

Keep blogging! Eh, salah… maksudnya… ayo terus nge-blog!
:D

Belajar bikin kepala garis dari Pos Kota & Kompas

WARGA: PLN KEJAM! Itulah headline yang ditulis Pos Kota awal Juli lalu, tentang ulah semena-mena oknum PLN membongkar meteran listrik dan meminta uang warga. Gaya (bahasa) disfemisme memang sejak dulu sudah menjadi ciri khas media beroplah sekitar 300 ribu eksemplar ini, selain sangat terang-terangan, gamblang, blak-blakan, juga hampir setiap kepala beritanya tampil dengan huruf full kapital.

Kontras dengan apa yang ditulis oleh Kompas di hari yang sama. Meski juga mengangkat sepak terjang pelayanan publik, namun koran yang pertama kali terbit 28 Juni 1965 ini lebih memilih membahas ketidakjelasan ketentuan izin usaha, dengan headline: Meniadakan Daerah Abu-abu. Sungguh metafora yang manis, bukan?

poskotalogo.jpg

Sebagai media yang sudah berakar kuat di masyarakat, Pos Kota dan Kompas memang sangat piawai menemukan insight pembacanya masing-masing. Secara produk satu sama lain punya keistimewaan tersendiri, tidak bisa dikomparasi plek-ketiplek apple to apple, karena jelas dari pemilihan jenis berita saja sudah tak sama. Jika pun ada berita sejenis yang sama-sama dijadikan headline, gaya penulisannya pasti akan berbeda.

Lihat, apa yang mereka tulis ketika sama-sama meng-headline-kan berita tentang kekalahan tim nasional sepakbola Indonesia pada dua pertandingan Grup D Piala Asia, bulan Juli lalu.

Ketika usai melawan Arab Saudi, Kompas pada 14 Juli 2007 menulis dengan elegan: Kalah dengan Kepala Tegak, dan masih berkompromi dengan menaruh kalimat harapan sebagai subheadline-nya: Peluang Indonesia Belum Habis. Pernyataan adem-ayem yang aman terkendali, sesuai dengan kepribadian konsumennya yang selalu mendambakan atau bahkan sudah menikmati kemapanan.
Bagaimana dengan Pos Kota? WASIT DIKUTUK! Sebuah headline yang sangat insightfull, mengingat sebagian pembaca koran yang berdiri tahun 1970 ini, adalah mereka yang ada di wilayah keras, tak mau kalah, sehingga malah menyalahkan wasit yang dianggap memihak tim lawan.

kompaslogo.jpg

Indonesia Belum Jadi Elite Asia. Lagi-lagi Kompas menuliskan headline bergaya ironi lembut untuk memberitakan kegagalan timnas Indonesia melawan Korsel, lima hari setelah kalah dengan kepala tegak. Sebaliknya Pos Kota lebih memilih sudut pandang yang nyeleneh untuk berita yang sama: SBY TAK BAWA HOKI, subheadline: 2 X NONTON 2 X KALAH. Benar-benar headline yang merefleksikan karakter segmen pembacanya.

Dari perbedaan signifikan itulah, kembali menyadarkan kita bahwa setiap produk punya konsumennya sendiri, dan sangat penting untuk mengenalinya lebih jauh sebelum merangkai k
ata guna mencuri perhatian mereka. Jika saat ini Anda sedang puyeng dikejar garis mati untuk membuat sebuah kepala garis yang pas? Silakan cari kedua koran laris ini, siapa tahu kalimat-kalimat sakti mereka bisa menjadi inspirator yang jitu. Selamat ber-headline-ria!

[ditulis dan dimuat pada bulan Agustus 2007]

Whats wrong denganmu, oh my bahasa?

Indulge itu apa ya? tanya seorang teman setelah ia melihat sebuah iklan di koran. Ternyata kata indulge yang dalam bahasa Indonesia berarti: menurut suka hatinya, memperturutkan hati (sumber: www.kamus.net), ada dalam awal kalimat sebuah headline iklan kendaraan buatan Jepang.

Kebetulan teman pengusaha restoran yang sukses ini memang hendak membeli mobil, sehingga rajin lihat-lihat iklan mobil. Ketika ia menemukan iklan salah satu mobil dambaannya namun mengalami kesulitan memahami apa yang hendak ditawarkan oleh iklannya, ia malah jadi tak merasa perlu untuk membeli merek tersebut. Meskipun sebenarnya iklan itu juga memiliki badan naskah (baca: body copy) berbahasa Indonesia yang dapat dimengerti, tapi dia sudah terlanjur malas membacanya.

Sepertinya lagi marak iklan-iklan di media cetak yang bergaya campuran begitu. Hampir setiap hari kita bisa lihat di koran iklan-iklan yang punya kepala tulisan (baca: headline) berbahasa asing dan berbadan bahasa Indonesia, atau bahkan di kepalanya sudah campuran. Contohnya saat puasa dan Lebaran: Buffet Buka Puasa, Lebaran Sale, Lebaran Great Promo, Up to 50% Off! dan masih banyak lagi.

Iklan di media berbahasa Indonesia, pastinya dibaca oleh orang yang sehari-hari berbahasa Indonesia, kenapa harus pakai bahasa Inggris? Apa salahmu wahai Bahasa Indonesia? Apakah orang Indonesia yang banyak duit selalu berbahasa asing jika berbicara setiap hari? Sehingga perlu berbahasa Inggris untuk menjaring mereka agar tergoda dengan produk yang diiklankan (padahal kenyataannya tidak juga, contohnya si pengusaha sukses seperti ilustrasi di atas). Atau karena bahasa Indonesia sudah benar-benar tiada berharga di mata penggunanya sendiri?

Ayo jalan-jalan sebentar ke Paris, Perancis. Masuklah ke beberapa toko mode terkenal seperti: Lafayette, Paris Look, atau gerai parfum France & Monde. Jangan kaget kalau tiba-tiba kita disapa oleh pramuniaganya dengan bahasa Indonesia. Begitu pula di Amsterdam, Belanda. Gassan Diamonds salah satu toko berlian terkenal di sana juga punya karyawan khusus yang berbahasa Indonesia untuk menyambut konsumen dari Nusantara. Ternyata bahasa Indonesia lebih dihargai di sana!

Jika alasannya lebih keren pakai kata buffet ketimbang prasmanan, kata great sale yang lebih kedengeran oke ketimbang obral besar, atau istilah up to 50% off yang lebih menunjukkan kelasnya ketimbang potongan harga 50%! Yo wis lah, lagi-lagi masalah kebiasaan. Padahal jika dilihat dari efektifitas dan keberhasilan iklannya merengkuh konsumen, belum tentu tepat juga. Mungkin kalau dari dulu kita semua terbiasa menghargai dan lebih suka berbahasa Indonesia, serta percaya diri bertutur dengan bahasa negeri sendiri, bahasa iklan-iklan kita tidak lagi terdistorsi seperti sekarang ini. Sungguh malang nasibmu oh bahasaku... [b\w] (post di benwal.blogdetik 25/07/2008)

Majalah AdDiction edisi 08/05/2007